Lo tahu nggak, gue punya mimpi masa kecil yang agak aneh. Gue pengen punya komputer yang bisa dilipet dan masuk saku. Kayak di film-film mata-mata tahun 90-an. Dulu gue kira itu cuma mimpi.
Terus tahun 2025, Huawei rilis Mate XT. Dunia heboh. Tapi gue masih ngerasa… kurang. Karena bentuknya aneh, lipatannya ke luar, dan gue takut jatuh terus layarnya pecah. Belum lagi harganya yang bikin mikir ulang.
Dan sekarang, Januari 2026. Samsung ngelakuin sesuatu yang nggak pernah gue duga.
Galaxy Z TriFold—ponsel lipat tiga pertama mereka—bukan cuma dirilis, tapi langsung dinobatkan sebagai Best of CES 2026 oleh CNET, mengalahkan 62 produk lainnya dari seluruh dunia . Bahkan dapat predikat “Best Overall” dan “Best Mobile Tech” sekaligus .
Gue inget persis tanggal 12 Januari 2026, pas baca berita itu. Sambil ngopi pagi, gue liat notifikasi: “Samsung’s Galaxy Z TriFold wins Best CES 2026 Award”. Dan gue kayak… “WOI AKHIRNYA!”
Tapi setelah euforia reda, gue mulai mikir. Apakah ini beneran sekeren itu? Atau cuma hype karena barang baru? Apakah ini bakal jadi produk yang lo beli terus nyesel? Atau justru jadi game-changer kayak dulu iPhone pertama?
Gue udah baca semua review, ngubek spek, bahkan stalk forum-forum diskusi. Dan ini dia review lengkapnya—bukan cuma soal ponselnya, tapi tentang gengsi, tentang masa depan, dan tentang pertanyaan besar: apakah lo butuh “desktop di saku”?
Sekilas: Apa Itu Galaxy Z TriFold?
Galaxy Z TriFold adalah ponsel lipat tiga pertama dari Samsung. Bedanya sama kompetitor? Samsung pilih jalur aman: G-type inner folding . Artinya, layar lebar 10 inci dilipat ke dalam, jadi terlindungi sempurna . Bayangin dompet, tapi isinya layar.
Waktu dilipat total, dia jadi ponsel biasa dengan layar cover 6,5 inci—mirip Galaxy Z Fold 7 . Dibuka penuh? Jadi tablet 10 inci dengan resolusi 2160 x 1584, pakai panel Dynamic AMOLED 2X yang mendukung 1-120Hz refresh rate dan peak brightness 2600 nit .
Dan yang paling gila: tebalnya cuma 3,9 mm pas dibuka. Itu lebih tipis dari kebanyakan tablet di pasaran. Bahkan lebih tipis dari Galaxy Z Fold 7 yang 4,2 mm .
Tapi ada harga yang harus dibayar. Bobotnya 309 gram—sekitar segitu berat sekaleng soda . Dan pas dilipet, tebalnya 12,9 mm. Jadi nggak bisa dibilang “slim” juga sih.
Yang Bikin Ini Beda: Bukan Sekadar Ponsel Lipat Tiga
Gue pengen mulai dari sini. Karena ini inti dari semuanya.
1. G-Fold: Perlindungan Maksimal, tapi Ada Konsekuensinya
Samsung milih jalur aman. Dibanding Huawei yang layarnya keluar saat dilipat (outer folding), Samsung bikin layarnya masuk ke dalam (inner folding). Bentuknya kayak huruf G kalau dilihat dari samping—makanya disebut G-Fold .
Apa untungnya? Layar lo terlindungi. Baterai dan komponen lain bisa dipasang di balik layar. Engselnya juga bisa lebih kuat. Samsung bahkan ngasih garansi 200.000 kali lipat—itu cukup buat 5 tahun lipat 100 kali sehari .
Tapi ada konsekuensinya: berat dan tebal. 12,9 mm itu tebal banget buat ukuran ponsel 2026. Dan 309 gram itu berat. Lo bakal ngerasa bedanya pas masukin ke saku celana. Jatoh agak narik.
2. DeX Native: Laptop di Saku yang Akhirnya Matang
Ini yang paling penting. Yang bikin gue akhirnya nulis artikel ini.
Samsung DeX udah ada sejak 2017. Tapi selama ini, lo butuh monitor atau TV buat ngerasain. Di Galaxy Z Fold 7, layar 7,6 inci terlalu kecil buat DeX beneran.
Di TriFold? Layar 10 inci. Dan Samsung akhirnya ngizinin DeX jalan native di perangkat .
Artinya apa? Lo buka DeX, tampilannya jadi kayak Windows. Buka aplikasi dalam jendela. Buka 5 aplikasi sekaligus di satu workspace. Bisa buka 4 workspace bersamaan. File bisa di-drag antar jendela .
Coba lo bayangin. Lo di kereta. Mau ngerjain laporan. Lo buka ponsel, ubah jadi DeX mode. Colok keyboard Bluetooth. Dan lo ngerjain Excel persis kayak di laptop. Tapi perangkatnya muat di saku celana.
Ini yang dulu gue mimpikan waktu kecil. Dan akhirnya, di 2026, jadi nyata.
3. Bukan Cuma Layar Besar, Tapi Layar yang Lebar
Ini detail kecil tapi penting.
Ponsel lipat biasa kayak Fold 7 itu kalau dibuka jadi lebih tinggi, bukan lebih lebar. Makanya pas lo buka website, layoutnya masih mobile version. Masih sempit.
TriFold beda. Dengan lebar 214,1 mm pas dibuka, ini lebih lebar dari kebanyakan tablet 10 inci. Lo buka website, muncul versi desktop. Lo buka Excel, kolomnya kebaca semua. Lo baca PDF, nggak perlu zoom bolak-balik .
Lebar ini yang bikin “desktop experience” jadi masuk akal. Bukan caya.
3 Hal yang Bikin Tercengang (dari Review Langsung)
Gue kumpulin dari beberapa sumber yang udah pegang langsung—termasuk review dari HK01 yang bisa utak-atik di China .
1. Engsel yang… Adiktif
Lo tahu sensasi buka tutup Zippo? Atau ngeklik pulpen? Nah, engsel TriFold ini katanya punya sensasi serupa. “Klik” yang mantap, magnet yang kuat, dan resistensi yang pas .
Yang paling penting: kalau lo salah urutan lipat, HP bakal getar dan kasih peringatan . Ada sensor yang deteksi kalau lo mencoba melipat ke arah salah. Ini fitur kecil tapi nyelametin layar dari kerusakan.
Gue baca di review, banyak orang awalnya bingung urutan lipatnya. Tapi setelah beberapa kali, jadi hafal. Dan sensasi “klik” itu bikin ketagihan.
2. Layar 10 Inci Tanpa Lipatan yang Mengganggu
Ini yang paling ditakutin orang: dua lipatan, berarti dua bekas lipatan. Lebih parah dong?
Ternyata… enggak sebanyak itu. Review bilang, kalau lo lihat dari depan, lipatannya hampir nggak keliatan. Baru kalau lo lihat dari samping atau kena pantulan cahaya, baru keluar dua garis tipis.
Buat nulis pake S Pen? Nggak masalah. Lipatannya nggak ganggu goresan. Bahkan di area lipatan sekalipun.
Ini karena Samsung pake lapisan “減震強化塗層” (shock-resistant coating) yang bikin layar lebih tahan sekaligus mengurangi kedalaman lipatan .
3. Multitasking yang Beneran Kerasa
Coba lo bayangin: di layar 10 inci, lo bisa buka tiga aplikasi sekaligus, plus satu floating window. Itu total 4 aplikasi aktif dalam satu layar.
Gue baca di review, orang bisa buka YouTube di pojok kiri atas, WhatsApp di kanan atas, browser di kiri bawah, dan notes di kanan bawah. Semua jalan bersamaan, nggak ada yang ngalah.
Ini bukan cuma gimmick. Buat yang kerjaannya multitasking— kayak gue nulis sambil riset sambil chat—ini game changer banget.
Tapi Jangan Keburu GeEr: Ada Kekurangannya Juga
Gue harus fair. Karena nggak ada HP sempurna, apalagi generasi pertama.
1. Baterai: 5.600 mAh vs Layar 10 Inci
Ini masalah matematika sederhana. Layar 10 inci butuh daya lebih gede. Samsung kasih baterai 5.600 mAh—terbesar di antara ponsel lipat mereka. Tapi cukup?
Review bilang: pas dipake sebagai ponsel (lipat), baterainya awet. Pas dibuka jadi tablet dan dipake buat kerja berat? Boros. Lo bisa lihat persentase baterai turun di depan mata.
Solusinya? Bawa power bank. Atau siap-siap charge di tengah hari.
2. Kamera: Sama Kayak Fold 7, Tapi…
TriFold pake kamera yang sama persis dengan Fold 7: 200MP utama, 12MP ultrawide, 10MP telephoto 3x . Ini kamera bagus. Tapi bukan yang terbaik di 2026.
Dan karena desainnya yang tipis, modul kameranya agak menonjol. Pas ditaruh di meja, agak goyang. Ada yang komplain soal distribusi berat—karena kamera di satu sisi, HP jadi berat sebelah .
3. Harga: $2.899 / Rp40,6 Juta
Ok, ini bukan kelemahan buat semua orang. Tapi buat mayoritas, ini mahal banget.
Di Indonesia, harga dipatok sekitar Rp40,64 juta untuk varian 512GB . Itu lebih mahal dari kebanyakan laptop. Lebih mahal dari iPad Pro. Lebih mahal dari HP flagship manapun.
Samsung sendiri ngaku: ini produk “edisi khusus”, bukan buat produksi massal. Buat pengguna yang benar-benar mau .
4. Gen-1 Problem
Ini yang paling gue khawatirkan. TriFold adalah produk generasi pertama. Dua engsel, dua kali lipat kompleksitas. Lebih banyak yang bisa rusak.
Techlicious bahkan nyaranin: jangan beli sekarang. Tunggu generasi kedua atau ketiga, karena masalah-masalah awal biasanya baru keluar setelah dipake ribuan orang .
Samsung ngasih diskon 50% buat perbaikan layar sekali—itu semacam pengakuan implisit bahwa layarnya mungkin butuh perbaikan .
Data dan Fakta Penting (Biar Lo Nggak Bingung)
Gue rangkum semua spek penting di sini:
| Spesifikasi | Galaxy Z TriFold | Galaxy Z Fold 7 |
|---|---|---|
| Layar utama | 10 inci Dynamic AMOLED 2X, 2160×1584, 1-120Hz | 7,6 inci, 2176×1812 |
| Layar cover | 6,5 inci, 2520×1080, 1-120Hz | 6,3 inci |
| Prosesor | Snapdragon 8 Elite for Galaxy | Snapdragon 8 Elite for Galaxy |
| RAM | 16GB | 12GB |
| Penyimpanan | 512GB / 1TB | 256GB / 512GB / 1TB |
| Baterai | 5.600 mAh (tiga sel) | 4.400 mAh |
| Ketebalan | 12,9 mm (lipat), 3,9 mm (buka) | 12,1 mm (lipat), 5,6 mm (buka) |
| Berat | 309 gram | 253 gram |
| Kamera utama | 200MP + 12MP + 10MP (sama) | 200MP + 12MP + 10MP |
| Fitur unik | DeX native, dua engsel | S Pen tersembunyi |
| Harga (USD) | $2.899 | $1.999 |
| Harga (IDR) | ~Rp40,6 juta | ~Rp28 juta |
Yang menarik: 94% pembeli di AS merekomendasikan produk ini, dengan rating 4,7/5—sama dengan Fold 7 . Ini luar biasa buat produk generasi pertama.
Beberapa komentar pembeli:
- “Best phone ever”
- “The future”
- “Quite possibly the coolest piece of tech”
- “Great durability”
Tapi ada juga yang bilang “Worthless” dan “Acceptable”. Jadi nggak semua suka.
Studi Kasus: Siapa yang Cocok (dan Nggak Cocok) Beli Ini?
Studi Kasus #1: Andi, 34 tahun, Konsultan
Andi kerja di konsultan manajemen. Tiap minggu naik pesawat, meeting di mana-mana. Dia bawa laptop, iPad, dan HP. Tasnya berat banget.
Dengan TriFold, Andi bisa ninggalin iPad di rumah. Bahkan buat meeting tertentu, dia bisa ninggalin laptop juga. Colokin keyboard Bluetooth, buka DeX, dan presentasi dari HP.
Buat Andi, Rp40 juta itu investasi. Karena nggak perlu beli tiga device.
Studi Kasus #2: Dina, 28 tahun, Konten Kreator
Dina bikin video TikTok dan YouTube. Butuh HP dengan kamera oke, tapi juga butuh layar gede buat edit video di perjalanan.
TriFold mungkin menarik buat Dina. Tapi masalahnya: kamera Fold 7 itu bagus, tapi bukan yang terbaik di kelasnya. Dan bobot 309 gram terlalu berat buat syuting video lama-lama.
Dina mungkin lebih cocok beli HP kamera bagus (S25 Ultra misalnya) plus iPad mini. Harga total sama, tapi lebih ringan di tangan pas syuting.
Studi Kasus #3: Raka, 19 tahun, Mahasiswa
Raka dapat warisan ortu. Mau beli HP keren biar keliatan gaul. Dia lihat TriFold, langsung kepincut.
Ini yang paling berisiko. Buat Raka, TriFold mungkin overkill. Dia nggak butuh DeX, nggak butuh multitasking berat. Dia cuma butuh HP keren. Tapi dengan harga segitu, dia bisa beli HP flagship + laptop + liburan.
Dan sebagai produk gen-1, risiko kerusakan lebih tinggi. Kalau engselnya rusak setahun lagi, biaya servisnya bisa setengah harga HP baru.
5 Hal yang Harus Lo Tahu Sebelum Beli
Gue kasih poin-poin praktis buat lo yang lagi mikir-mikir.
1. Coba Pegang Dulu
Bobot 309 gram itu nggak bisa dibayangin, harus dirasain. Cari display unit di Samsung Store atau gerai resmi. Lipat buka berkali-kali. Rasain beratnya di saku. Kalau lo merasa “wah berat banget”, mungkin ini bukan buat lo.
2. Pikirkan Skenario Penggunaan
Apakah lo beneran butuh DeX? Apakah lo sering kerja di tempat tanpa laptop? Atau lo cuma pengen layar gede buat nonton YouTube? Kalau yang kedua, beli tablet lebih murah.
3. Siapin Dana Cadangan
Beli produk gen-1 berarti siap-siap dengan kemungkinan masalah. Samsung kasih diskon 50% buat perbaikan layar sekali . Tapi itu cuma sekali. Pastikan lo punya dana darurat atau asuransi device.
4. Cek Kompatibilitas Aplikasi
Nggak semua aplikasi dioptimasi buat layar 10 inci atau buat DeX. Instagram mungkin masih crop. Game tertentu mungkin nggak muat. Cek review dari pengguna yang udah beli buat lihat aplikasi favorit lo jalan nggak.
5. Pertimbangkan Waktu Tunggu
Stok TriFold di AS udah habis dalam beberapa hari setelah rilis 30 Januari 2026. Dan sampai sekarang belum restock . Di Indonesia, mungkin juga bakal terbatas. Kalau lo belum siap beli sekarang, mungkin harus nunggu lama.
Jawaban buat Pertanyaan Besar: Apakah Ini Masa Depan?
Gue sering mikir, apa iya ponsel lipat tiga ini bakal jadi mainstream? Atau cuma jadi produk niche kayak laptop lipat?
Data dari IDC bilang, pasar foldable masih kurang dari 2% total penjualan HP global . Masih kecil. Tapi trennya naik tiap tahun.
Apple disebut-sebut bakal rilis foldable iPhone di 2026 . Kalau itu terjadi, pasar bakal meledak. Dan Samsung udah siap dengan TriFold sebagai pemimpin pasar.
Tapi untuk sekarang? TriFold ini jelas bukan buat semua orang.
Ini buat early adopters. Buat orang yang rela bayar mahal buat jadi yang pertama. Buat orang yang kerjaannya butuh produktivitas tinggi di mana aja. Buat orang yang punya uang lebih dan pengen mainan baru.
Buat lo yang masih ragu? Mungkin tunggu TriFold 2 atau TriFold 3. Atau tunggu harganya turun. Atau tunggu kompetitor keluar biar ada pilihan.
Tapi satu hal yang pasti: Samsung udah membuka pintu ke masa depan. Masa depan di mana HP, tablet, dan laptop bisa jadi satu. Masa depan di mana “desktop di saku” bukan lagi mimpi.
Dan gue, yang dari kecil ngarep punya komputer lipat, akhirnya bisa bilang: “Mimpi gue udah kesampaian. Tinggal nunggu harganya turun.”
Jadi, Lo Jadi Beli?
Gue nggak bisa jawab itu buat lo. Tapi gue bisa kasih pertanyaan balik:
Lo punya Rp40 juta lebih? Lo siap jadi tester produk gen-1? Lo beneran butuh laptop di saku? Atau lo cuma tergoda karena ini barang baru dan keren?
Jawab pertanyaan-pertanyaan itu jujur. Dan lo bakal tahu jawabannya.
Yang jelas, Galaxy Z TriFold ini bukan sekadar HP. Ini statement. Ini teknologi yang dorong batasan. Ini bukti bahwa inovasi masih hidup di industri yang kadang terasa stagnant.
Dan buat gue pribadi? Gue belum beli. Tapi gue seneng banget produk ini ada. Karena sekarang, setiap kali gue buka laptop di kafe, gue bisa bayangin: “5 tahun lagi, mungkin gue nggak perlu bawa ini lagi. Cukup bawa HP di saku.”
Dan buat anak kecil yang sekarang mimpi punya komputer lipat kayak gue dulu? Mungkin 10 tahun lagi, mimpinya udah beda lagi. Mungkin mereka mimpi punya komputer yang bisa nempel di kacamata. Atau langsung di otak.
Tapi itu cerita lain.
Yang jelas, 2026 ini, mimpi gue kesampaian. Dan rasanya… hangat gitu di dada.
Gue penasaran, nih. Di antara lo yang baca, ada yang udah pesan atau bahkan udah pegang TriFold? Share pengalaman lo di kolom komentar. Buat yang masih mikir-mikir, tanya aja. Mungkin dari diskusi ini, lo jadi lebih yakin—entah buat beli atau buat nunda dulu.
